Ayah Bunda, Ketahui Konsep Belajar Ini Agar Ananda Sukses Belajar

Macam macam aktivitas belajar

Tulisan ini akan mengurai tentang konsep belajar, yaitu: definisi belajar, modalitas belajar, gaya belajar, tipe kecerdasan.

belajar bagaimana cara belajar

Zaman dahulu, sewaktu saya sekolah di sekolah dasar, cara belajar saya biasa saja. Sama seperti anak anak umumnya. Baca buku, membacanya dengan suara keras, mengulangnya sampai hafal untuk mata pelajaran yang memerlukan hafalan seperti IPS, PMP, dan seterusnya. Lalu menghafal rumus-rumus, dan mengerjakan latihan untuk mata pelajaran seperti matematika.

Dulu saya belum mengenal konsep learn how to learn, learning styles, dan sebagainya. Namun Alhamdulillah, saya bisa melalui proses belajar di sekolah dengan sukses sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Sekarang, saya harus mengetahui beberapa tipe belajar untuk dikenalkan kepada anak anak saya. Bukan hanya pelajaran kurikulum diknas saja, tetapi bagaimana belajar dengan efektif sesuatu hal yang baru seperti keterampilan yang akan menunjang kehidupannya (life skills).

Dengan mengetahui dan mengenal konsep belajar, diharapkan ananda akan optimal dalam belajar. Itulah tujuan saya mengajarkan konsep belajar ini. Sekarang kita mulai dengan konsep belajar yang pertama yaitu tentang apa itu belajar.

Definisi Belajar

Menurut Nasution (1982) yang saya baca di http://staffnew.uny.ac.id/upload/131569336/pendidikan/Modalitas+Belajar.pdf

ada beberapa makna belajar, yaitu:

  • Belajar adalah perubahan dalam sistem saraf sebagai hasil respon dari stimulus.
  • Belajar adalah perubahan pengetahuan.
  • Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan.

Menurut Hilgard, belajar adalah proses melahirkan suatu kegiatan melalui latihan.

Menurut Deporter, belajar adalah aktivitas yang melibatkan semua aspek kepribadian manusia, pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap dan keyakinan.

Menurut Sukamto (2000), belajar adalah upaya dari pendidik mengantarkan anak didik bagaimana harus belajar dan bagaimana harus berpikir.

Nah, saya sedang menerapkan belajar menurut definisi Sukamto ini, yaitu mengajarkan anak cara belajar. Tujuannya adalah agar anak enjoy dalam belajar karena belajar bukan beban tapi kebutuhan. Dan tulisan di blog ini sebagai dokumentasinya.

Modalitas Belajar

Agar ayah bunda dan ananda dapat mengetahui gaya belajar (learning style), perlu mengetahui modalitas belajar.

Apa makna modalitas belajar?

Menurut sumber yang sama (lihat link di atas), ada beberapa arti modalitas belajar, yaitu:

  • Modalitas belajar adalah ungkapan dari rancangan sistem otak/pikiran yang merupakan kemampuan dasar seseorang untuk memperoleh/menciptakan pengalaman.
  • Modalitas belajar adalah cara yang digunakan untuk mengakses pengalaman (input) dan mengungkap pengalaman (output).

Ada lima modalitas belajar yaitu: abstrak/simbolis, visual, kinestetik, auditori, sinergis.

lima macam modalitas belajar

Beberapa Contoh tipe Belajar

Ada beberapa tipe yang anda bisa gabungkan dalam pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang optimal

Tipe Visual
Disebut juga tipe spatial, anak anak tipe ini cenderung suka gambar, bentul visual yang berwarna, dan lay out yang indah untuk memahamkan sesuatu di benaknya. Mereka menggunakan visual words. Tools nya adalah mind-mapping.

Tipe Auditory
Anak yang bertipe ini menyukai suara untuk didengarkan, terlebih suara yang berima (sajak), kadang mereka lebih suka mereka suara mereka dan mendengarkan kembali untuk lebih paham dan hapal akan sesuatu yang dipelajarinya.

Tipe Verbal
Disebut juga tipe linguistic, seperti namanya mereka menyukai menggunakan kata kata (words). Mereka mendeskripsikan sesuatu dengan kata baik dengan speech maupun writing. Mereka akan menuliskan ulang materi yang mereka dapat untuk kemudian mereka gunakan untuk mereview. Mereka juga senang untuk membaca dengan suara yang keras.

Tipe physical
Disebut juga tipe kinesthetic. Anak bertipe ini cenderung suka untuk menggunakan tubuhnya seperti tangan untuk merasakan agar mendapatkan sense of touch. Lebih aktif dalam bergerak. Mereka bahkan senang menghapal sesuatu sambil mengunyah atau berjalan atau berdiri. Menulis dan menggambar diagram atau membuat catatan dengan cara berbeda adalah salah satu aktifitas mereka.

Tipe intrapersonal
Mereka lebih memilih belajar sendiri yang dinamakan self-study. Mereka pandai menyelaraskan antara tujuan (goal) mereka dengan personal belief/values mereka. Anak anak ini bahkan dapat mendorong atau memotivasi diri sendiri. Ini ada hubungannya dengan dokumentasi saya sebelumnya yaitu mengajarkan self-regulatory skills agar sukses dalam belajar.

Tipe interpersonal
Kebalikan dari tipe di atas, mereka menyukai belajar dengan kelompok atau belajar dengan orang lain. Berdiskusi aktif sehingga mendapatkan pemahaman yang baik atas suatu subject. Mereka senang menjadi “guru” atau menjelaskan sesuatu yang sudah dimengerti untuk membuat pemahaman dan hafalan yang kuat pada benaknya. Mereka juga tak segan segan bertanya pada kelompok belajarnya untuk sesuatu bahan yang belum dimengerti.

Tipe logical
Anak anak bertipe ini menggunakan logika (seperti reasoning, system flow) dalam memahami suatu teori. Mereka mencoba untuk mengerti sesuatu (understand the reason behind the context). Dalam memahami sesuatu, mereka seringkali menggunakan asosiasi dan membuat list dari point-point yang dianggap penting. Mereka mencoba mengerti sesuatu secara system (understand bigger picture).

Dari literature yang saya baca, diusahakan cara belajarnya jangan terpaku ke satu tipe saja, bisa dikombinasikan beberapa tipe yang kita sukai.

Tipe belajar ini berkaitan dengan gaya belajar. Gaya belajar maksudnya adalah cara belajar yang lebih disukai seseorang untuk memproses pengalaman dan informasi.

Sekarang ayah bunda jadi tahu bahwa umumnya ada tiga profil gaya belajar berdasarkan modalitas belajar, yaitu: kinestetik, auditorial, dan visual.

Inti dari konsep ini agar ayah bunda dapat menemukan gaya belajar ananda. Ayah bunda dapat mengamati aktivitas belajarnya, bagaimana ananda melakukan aktivitas tersebut, biasanya ada gaya unik mereka yang bersumber dari kekuatan pribadi mereka.

Jika ayah bunda sudah menemukan gaya belajar ananda, maka ayah bunda dapat melakukan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajarnya.

Diharapkan dengan pelatihan ini, ananda akan menganggap belajar bukan sebagai beban namun sebaliknya ananda akan enjoy dalam belajar.

Untuk diketahui ayah bunda, aktivitas belajar saat ini belum memanfaatkan seluruh modalitas belajar secara efektif.

Untuk itu, lakukan latihan secara bertahap untuk melakukan variasi cara belajar dengan memanfaatkan modalitas belajar yang lain. Mengapa? sebab suatu informasi/pelajaran/ilmu kadang dapat dipahami dan dipraktekkan dengan modalitas tertentu, sedang sebagian lain dapat dipahami secara efektif dengan memanfaatkan modalitas yang lain.

Proses perjalanan informasi menuju otak

Ada enam jalur utama informasi masuk ke otak dan diolah, yaitu:

  1. Informasi dari apa yang kita lihat.
  2. Informasi dari apa yang kita dengar.
  3. Informasi dari apa yang kita kecap.
  4. Informasi dari apa yang kita sentuh.
  5. Informasi dari apa yang kita cium (baui).
  6. Informasi dari apa yang kita lakukan.Sumber: Gordon Dryden (1999)

Jadi kita belajar atau mendapatkan pengetahuan baru dari jalur utama tersebut. Dengan mengetahui ini, maka ayah bunda akan mendapat inspirasi aktivitas belajar yang bagaimana yang akan dilakukan bersama anak.

Contoh:

Ketika ayah bunda mengajarkan anak berwudhu dengan benar, maka ayah bunda dapat melakukan aktivitas pada poin satu dan nomor enam, alias melihat gerakan yang kita contohkan setelah itu anak-anak melakukan praktek wudhu tersebut.

Untuk informasi tambahan agar ayah bunda ada gambaran aktivitas belajar apa saja yang bisa dilakukan di rumah, di bawah ini ada beberapa contoh macam aktivitas belajar.

Contoh Aktivitas Belajar

Contoh aktivitas belajar ini diambil dari daftar macam kegiatan belajar dari Paul B. Diedrich.

Macam macam aktivitas belajar

  • Visual activities, contohnya: membaca, melihat gambar, melihat demonstrasi dari pengajar, melihat pekerjaan dari orang lain, dll.
  • Oral activities, contohnya: bertanya (tanya-jawab), mengeluarkan pendapat, interview, diskusi, memberi saran, memberi pernyataan, dll.
  • Listening activities, contohnya: mendengarkan story-telling, mendengarkan uraian dari pengajar, diskusi, pidato, menghafal dengan membaca keras, dll.
  • Writing activities, contohnya: menulis cerita, menulis rangkuman dari apa yang sudah ia pelajari, membuat karangan, membuat laporan, menjawab test, menyalin catatan, dll.
  • Drawing activities, contohnya: menggambar, membuat grafik, mendeskripsikan teori/sesuatu dengan gambar, peta, diagram, mind-mapping, dll.
  • Motor activities, contohnya: melakukan eksperimen (biasanya pada materi sains), membuat konstruksi, membuat model, belajar makhluk hidup di kebun (berkebun), membuat sesuatu, merawat hewan, dll.
  • Mental activities, contohnya: menanggapi sesuatu, memecahkan masalah, mengingat konsep, menganalisis sesuatu, melihat hubungan antar objek, mengambil keputusan, dll.
  • Emotional activities, contohnya: memotivasi, menaruh minat, berani mengungkapkan pendapat, tenang dalam menceritakan sesuatu, dll.

Berdasarkan contoh aktivitas di atas, maka ayah bunda dapat melakukan kegiatan belajar wudhu seperti:

  • Visual activities: melihat video tata  cara berwudhu, melihat ayah bundanya berwudhu, dll.
  • Drawing activities: menggambarkan urutan wudhu secara berurutan, atau menuliskan diagram anggota tubuh yang dibasuh pada saat wudhu secara urut, dll.
  • Motor activities: praktek wudhu langsung di rumah atau di keran masjid, dll.

Sekarang kita menuju bahasan terakhir yaitu delapan kecerdasan menurut Howard Gardner (1993). Sumber yang saya ambil adalah dari website http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Ishartiwi,%20M.Pd.,%20Dr.%20/Pengembangan%20Modalitas%20ABK.pdf

Delapan Tipe Kecerdasan

  1. Kecerdasan linguistik, yaitu kecerdasan dalam menulis, membaca, komunikasi (lisan dan tulisan), dll.
  2. Kecerdasan logika, yaitu kecerdasan matematika, berpikir logis, kemampuan berpikir sistematis, daya nalar tinggi, dll.
  3. Kecerdasan spatial, yaitu kecerdasan visual, mampu membaca peta/arah, kemampuan membayangkan objek, dll.
  4. Kecerdasan musikal, yaitu kemampuan mencipta ritme, lagu, dll.
  5. Kecerdasan kinestetik, yaitu kemampuan olah tubuh, olah-raga/atlet, keterampilan membuat sesuatu, dll.
  6. Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan hubungan dan kerjasama dengan orang lain, empati, mengerti/aware dengan orang lain, dll.
  7. Kecerdasan intrapersonal, yaitu kemampuan untuk muhasabah, refleksi diri, self-awareness, mengembangkan potensi diri, mampu memotivasi diri (intrinsik), dll.
  8. Kecerdasan naturalistik, yaitu kemampuan berinteraksi dengan alam sekitar, trampil untuk berburu, bertani, berkebun, merawat hewan, dll.

Setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri. Ada anak yang mempunyai semua kecerdasan (generalist), ada anak fokus mempunyai kecerdasan tertentu (specialist).

Setiap anak mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kecerdasannya hingga tingkat tertinggi (expert), syaratnya adalah ayah bunda terus menstimulasi ananda.

Dengan mengetahui hal ini, tidak ada alasan lagi bagi ayah bunda yang kecewa ketika ananda mendapat nilai kurang dalam pelajaran “favorit” seperti matematika, fisika, kimia. Dahulu sebelum saya mengetahui multiple intelligence, saya mendefinisikan orang pintar adalah orang yang jago matematika, fisika, kimia.  Sekarang saya sadar bahwa orang yang jago melukis sebenarnya ia juga orang yang pintar, pintar dalam bidang art.

Yang jadi tugas dan perhatian ayah bunda sekarang adalah melihat, mengamati, menemukan, mengenali beberapa hal ini yaitu minat, bakat, gaya belajar, tipe kecerdasan.

Jikalau sudah mengetahuinya, saya ucapkan selamat! berarti ayah bunda tinggal terus menstimulasi dan mendorongnya agar ananda menjadi orang yang sukses dibidangnya.