Pentingnya Mengajarkan Self Regulatory Skills Pada Anak

apa itu self regulatory skills

Homeschooling itu sebenarnya adalah perjalanan pembelajaran. Kalo saya sih menyebutnya petualangan pembelajaran di universitas kehidupan.

Banyak mata kuliah yang bisa dipelajari, contohnya mata kuliah kesabaran, mata kuliah kegigihan. Salah satu yang ingin saya ulas disini adalah satu mata kuliah yang penting bagi anak anak, terutama bagi para Homeschoolers, yaitu self-regulatory skills.

contoh self regulatory skills - keuletan

Mengapa penting? Karena salah satu metoda belajar bagi para HS-ers adalah online learning atau distance learning. Saya pernah mengikuti salah satu online learning, dan menurut KPI (key performance indicator) yang saya definisikan, saya belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Saya melakukan evaluasi mengapa hal ini bisa terjadi? Saya akhirnya menemukan jawabannya. Jawabannya adalah self-regulatory skill saya belum mumpuni. Artinya saya harus melatih diri lebih giat lagi skill ini.

Tidak seperti kelas konvensional yang waktunya tetap dan tempatnya tetap di kelas, dengan online learning kita dapat mensetting waktu terserah kita, belajar dengan tahapan yang kita definisikan sendiri.

Tidak ada pressure seperti halnya di kelas konvensional. Kesimpulannya jika kita tidak mempunyai keterampilan mengatur diri sendiri, kita tidak akan berhasil di online learning ini.

Untuk itulah, saya berencana untuk mengenalkan secara dini keterampilan mengatur diri sendiri ini alias self-regulatory skill ini agar ketika ananda belajar dengan metode online learning, ia akan mencapai kesuksesan.

apa itu self regulatory skills

Apa itu Self Regulatory Skills?

Menurut sumber yang saya baca tentang definisi self regulatory skills, self regulatory skills adalah:

Skills like self-awareness, self-management, emotional literacy and problem-solving.

Tafsir bebasnya adalah sebagai berikut: Kemampuan untuk mengetahui fakta tentang situasi baik di dalam dirinya maupun di sekitar dirinya (self-awareness), kemampuan untuk mengatur dan mengontrol diri sendiri (self-management), memiliki EQ/kecerdasan emosional yang tinggi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah.

Dalam tulisan ini saya menitikberatkan tentang self-management skill yaitu kemampuan mengatur dirinya serta meningkatkan self-awarenessnya. Tujuannya adalah agar anak mampu belajar dengan baikĀ  dan enjoy belajar.

Langkah yang saya lakukan untuk mengenalkan dan mempraktekkan self-regulatory pada anak adalah:

  1. Mengajarkan anak anak bagaimana cara belajar (kasusnya sih saya angkat dari pengalaman saya, seperti metoda jembatan keledai untuk menghapal, menulis ulang atau membuat grafik untuk mengetes pemahaman tentang teori, dan lain lain)
  2. Mengatur (manage) pembelajaran secara efektif. Di dalam langkah ini, saya akan mengenalkan short term goals and long term goals, bagaimana agar goal dan aktivitas untuk mencapai goal ituĀ traceable (ada history nya), memecah project yang besar menjadi beberapa project yang kecil agar mudah dikerjakan.
  3. Langkah ini adalah langkah lanjutan dari langkah di atas, yaitu mengenalkan tools, seperti planning tools seperti menggunakan dan membaca progress bar, dan seterusnya.

Self-regulatory skills lain yang perlu diajarkan adalah:

1. Fokus terhadap sesuatu.
Diharapkan anak akan dapat menjaga atau memelihara perhatiannya pada sesuatu, contohnya ketika sedang belajar.

2. Ignore distraction.
Artinya mampu untuk mengabaikan gangguan ketika ia berusaha fokus terhadap sesuatu.

Contohnya: Ketika ada “godaan” seperti ada temannya memanggil dari luar rumah untuk mengajak bermain, sementara ananda sedang belajar persiapan ulangan untuk besok.

Dengan melatih kemampuan ini diharapkan ananda akan dapat mengabaikan gangguan tadi dengan baik, misalnya dengan mengatakan kepada temannya,”aku menyusul ke lapangan ya setelah selesai belajar.”

3. Mengikuti aturan yang telah disepakati.
Skill ini dilatih dengan melakukan pembiasaan setiap harinya sehingga anak akan mempunyai disiplin yang tinggi.

4. Dan seterusnya.

Bener juga ya kata praktisi homeschooling. Orang tua jadi belajar lagi jika mengimplementasikan HS. Ya seperti kami ini, belajar lagi di universitas kehidupan.

Semoga dapat terus menulis untuk mendokumentasikan apa-apa yang sudah didapat di blog ini. Dan semoga tulisan di blog ini dapat memberikan inspirasi bagi para orang tua dan calon orang tua.